Asbak Berkarat
--- Ini kuburan kecil untuk api yang buru-buru. Setiap puntung dijatuhkan, Dia terima tanpa tanya. Perutnya karatan. Bukan karena hujan, Tapi karena air mata nikotin yang numpuk tiap malam. Dia saksi. Saksi obrolan jam 1 pagi, Saksi janji "besok berhenti ngerokok", Saksi galau yang dipadamkan, bukan diselesaikan. Orang bilang jorok. Tapi siapa lagi yang mau nampung bara Kalau bukan dia yang udah karatan duluan? Sekarang dia berkarat. Tapi tetap di meja. Setia. Menunggu abu baru, Sambil pura-pura tidak ingat Semua luka yang pernah dipadamkan di badannya. --- ~Nurfalah~